Sabtu, 27 Mei 2017

Review Film : Ziarah (2017)

Mendengar kabar sesosok berusia 90-an tahun - dan dari Indonesia - mendapatkan nominasi artis di festival film internasional tentunya mengusik rasa penasaran. Meski  belum berhasil menjadi artis terbaik, sosok itu tetap diganjar dengan penghargaan khusus. Mbah Ponco Sutiyem (95) telah diganjar dengan Special Jury Award dalam ASEAN Internasional Film Festival and Award (AIFFA) 2017. Mbah Ponco meraih penghargaan tersebut dengan memerankan tokoh mbah Sri dalam film Ziarah. Sebuah film yang bercerita sebuah perjalanan menemukan kebenaran, tentang kenangan dan duka. Dengan ide cerita yang sederhana namun disampaikan dengan cara yang tidak biasa. Film yang layak masuk dalam daftar tonton.

Beberapa hari yang lalu sudah kesampaian untuk menonton Ziarah. Dan sekarang memberanikan diri untuk membuat review sedikit. Semoga bermanfaat J

.  .  .  . .

Ziarah, film karya BW Purba Negara mengemas cerita yang sederhana dengan latar belakang dan lokalitas jawa yang epik. Penonton film diajak untuk mengikuti perjalanan seorang mbah Sri untuk menemukan makam suaminya yang dikabarkan gugur dalam peristiwa Clash II (Agresi Militer Belanda II) tahun 1948. Setelah pertemuannya dengan mantan rekan pejuang suaminya, mbah Sri seperti mendapatkan kepastian dimana lokasi makam suaminya. Dan mendorong untuk menemukan harapan baru. Harapannya ketika meninggal nanti bisa disandingkan dengan makam suami tercinta.

Pemilihan dialog-dialog yang efektif, sederhana, kadang dengan simbolisme dan potongan informasi yang tidak lengkap, datang silih berganti dengan tempo yang lambat. Sepertinya film ini memberikan penontonnya kesempatan untuk mengikuti setiap adegan secara utuh. Adegan disajikan dengan cukup sederhana, tanpa bertele-tele membuat terasa lebih nyata. Kita akan disuguhkan adegan perjalanan dari dua tokohnya, mbah Sri yang pergi tanpa pamit kepada cucunya, dan Prapto cucu mbah Sri yang pergi menyusul mbah Sri. Adegan demi adegan membuka lembar demi lembar kebenaran yang tak seperti apa yang selama ini mereka kenang. Kebenaran muncul satu demi satu seperti membenturkan kenangan dan kenyataan. Film ini seolah-olah mendorong kita untuk lebih personal menghadapi kebenaran yang kita temui dalam kehidupan. Seolah berkata, jangan mengusik luka lama, biarkan kenangan tetap seperti sebelumnya.

Akan kah kita bersikap seperti itu? Bagaimana jika kita salah? Sudi kah kenangan kita akan hancur oleh kebenaran yang baru terungkap? Siap kah?
Keseluruhan adegan memberikan perasaan yang familiar. Terasa otentik seperti halnya kejadian sehari-hari yang biasa. Misteri siapa suami mbah Sri, terungkap dengan pelan, apa adanya. Setiap informasi menuntun ujung pencarian semakin dekat. Yang juga semakin mengaduk emosi, tanpa banyak drama, justru tampak datar sebenarnya. Sepanjang  film ceritanya nyaris datar, diselingi adegan yang tampak tidak berhubungan, nyaris tanpa konflik, pokok-nya syarat film yang membuat mengantuk. Namun jalinan ceritanya, misterinya, musiknya, dan tempo yang lambat cukup sukses –setidaknya untuk aku- larut dalam suasananya.

Perjalanan mbah Sri bukan hanya melelahkan fisik tapi sekaligus mengaduk emosi. Mendaki bukit demi bukit, melintasi desa demi desa, bertanya dari satu orang ke orang lainnya, berbekal informasi yang harus dibuktikan sendiri dengan mendatanginya satu demi satu, juga kebenaran yang siap untuk meruntuhkan kenangan selama ini. Membayangkan energi kah apa yang mendorong seorang renta untuk sanggup menjalaninya.

Menjelang akhir cerita, kita akan disajikan alasan mbah Sri melakukan pencarian makam suaminya. Disajikan juga tingkah laku salah satu karakter yang menjadi tanya bagi penontonnya. Kenapa dia harus melakukan itu. Apa dia takut, atau ada alasan lainnya. Well, namun demikian karakter itu jua yang menggiring ke ujung pencarian mbah Sri.


Dan, akhirnya film ini tetap memberikan kebebasan bagi penontonnya untuk mengambil nilainya. Bagi sebagian orang akan merasa konklusi yang diberikan kurang memuaskan, namun bagi aku pribadi sudah cukup. Karena pada akhinya sejarah itu selalu kabur. Selalu ada potongan-potongan cerita yang tak akan memuaskan rasa setiap orang.

TRAILER :

Sabtu, 25 Maret 2017

Chapter Banyuwangi : Dolan (hampir) di Ujung Jawa

Stasiun Gubeng, Surabaya, Jumat pagi 30 Desember 2016, pukul 03.00 WIB, kereta Gaya Baru Malam Selatan akhirnya tiba di pemberhentian terakhirnya. Mengantarkan dua makhluk dengan raut muka yang tidak dapat lagi menyembunyikan sisa-sisa rasa kantuk. Tujuh jam perjalanan dimulai dari stasiun Purwosari Solo, berturut-turut Madiun, Nganjuk, Mojokerto dan baru saja berakhir di Gubeng Surabaya. Ini masih setengah perjalanan. Selepas sholat Subuh, dari Gubeng lanjut dengan kereta Probowangi sambung menyambung lagi dengan Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Jember sebelum tiba di pemberhentian terakhir stasiun Karangasem Banyuwangi. Semuanya tujuh jam lagi. Total enam belas jam dari Solo ke Banyuwangi.

Perjalanan ini menjadi perjalanan jauh pertama dengan persiapan yang seadanya. Rencana semula, akhir tahun 2016 akan diadakan kemping ceria, satu di Lawu satu di Sumbing. Tapi semua berubah ketika demam telolet melanda, dari kantor mengumumkan akan dapat liburan 30 Des 2016- 2 Jan 2017. Artinya sehari lebih lama dari rencana semula. Tak ada masalah lagi jika berencana ingin ke provinsi sebelah. Jawa Timur.



. . . . .

Perjalanan kali ini ditemani rekan kantor dengan hobi yang hampir sama, suka jalan entah kemana. Sebut saja Wakhid. Rekan kantor  asli Tawangmangu yang telah menjelma menjadi rekan beberapa kegiatan jalan-jalan mengisi weekend.

Ada tiga kota yang disepakati, Malang, Banyuwangi, dan Surabaya. Dari hasil simulasi, yang paling memungkinkan Banyuwangi dan Surabaya. Waktu yang dimiliki kurang dari tiga minggu untuk memastikan destinasi mana saja akan dikunjungi. Dan, alhamdulillah, akhirnya hari ini bisa terlaksana dengan baik.

Sampai di stasiun Karangasem, jam menunjukkan pukul 11.13 WIB. Tak perlu lama-lama memilih ojek dan homestay untuk mandi lalu berangkat sholat Jumat.
Selesai sholat, langsung kita eksplorasi ada apa sih di Banyuwangi. Dan Warung Sego Tempong Mbok Wah yang jadi destinasi pertama kita. Letaknya tidak jauh dari masjid tempat kita sholat, tapi masih masuk gang-gang lagi yang sempit. Pulangnya ke homestay harus nyasar dulu. Hhaha.

Setelah mata melek habis di'tampar' dengan pedasnya rajikan mbok wah. balik-balik di homestay mandi lagi. Kali ini lebih lama untuk membayar utang perjalanan semalam.


. . . . .

Jam 2 siang, dengan menyewa motor, destinasi selanjutnya adalah jembatan Kalilo. Katanya mirip-mirip lah dengan kampung warna warni Jodipan di Malang.  Karena kondisi hujan, aslinya sih nanya malah nyasar, lanjut ke pantai terdekat, untuk tempat berteduh. Tiba di sana, pantai masih sepi. Air laut juga begitu tenang. Tampak di seberang pulau Bali berselimut kabut tipis. Sepertinya sedang hujan.  Pukul 5 sore, cabut ke masjid raya Banyuwangi.

Destinasi selanjutnya adalah Osing Deles. Pusat oleh-olehnya khas Banyuwangi. Ada jajanan, pakaian, dan karya seni yang cocok untuk dibawa pulang. Bangunannya memiliki tiga tingkat, dua di bawah untuk oleh-oleh dan satu di atas untuk kafe tempat nongkrongnya muda-mudi  gaul disini. Osing Deles menjadi penutup jalan-jalan kota sebelum besok menuju atraksi utama. Sebelum jam 9 malam sudah sampai di homestay. Beberes dan bongkar tas untuk persiapan nanti ke Kawah Ijen. Hanya one day trip jadi barang yang dibawa seperlunya. Rencana jam 12 nanti motoran ke pos Paltuding, jadi sekarang saatnya rehat. Kawah Ijen, tunggu kami. 













. . . . .

Sabtu, 31 Des pukul 00.30 WIB, berangkat menuju pos Paltuding. Pos ini bukan sekedar pos pendakian biasa, malahan sebelumnya adalah pos untuk penambang belereng dari Kawah Ijen. Namun dengan pesona yang menyertainya, kawasan kawah berkembang dengan atraksi utamanya penampakan api biru dan pemandangan sunrise-nya. Kawasan ijen ini masuk dalam zonasi milik PTPN XII yang berupa hutan kopi dan hutan lindung. Jadi dalam perjalanan nanti akan masuk gapura milik perusahaan. Selepas gapura dan loket retribusi, kita akan melewati kawasan hutan produksi dan hutan lindung, jadi sepanjang jalan hanya barisan pohon tanpa rumah penduduk. Kira-kira waktu tempuh setelah gapura ini setangah jam. Jalanan setelah gapura gelap dan berkabut, untungnya di tengah jalan bisa barengan dengan rombongan penambang yang juga naik.

Jam dua kurang sedikit tiba di Paltuding. Saat itu parkiran sudah ramai, meski lebih banyak yang mendirikan tenda. Sepertinya mereka akan mendaki hari besok agar tepat dengan momen pergantian tahun. Artinya hanya parkiran saja yang akan ramai, di atas nanti ramai biasa. Dari pos keberangkatan sampai kaldera kawah ditempuh hampir dua jam. Saat tiba di atas kaldera, jam menunjukkan empat pagi lebih sedikit. Kita buka lapak sambil menghangatkan badan dan menunggu waktu subuh. Lalu meluncur mengejar api biru di bawah sebelum menghilang lagi. Semangat!!!












Alhamdulillah , Puas sekali bisa kesampaian melihat si api biru yang konon katanya selain di sini ada di Islandia. Jadi untuk melihat api biru yang lainnya, mesti jauh menyeberang ke negeri es nun jauh di utara Atlantik sana. Bagaimana pun negeri itu punya anomali yang menarik. Semoga bisa kesana. Nanti.

By the way, ada yang menyadari di kawasan kaldera sy tidak berfoto dengan si wakhid??
Sebenarnya setelah buka lapak dan memasuki waktu Subuh, kami berpisah sebentar untuk bergantian mencari tempat lapang dan menunaikan kewajiban. Selepas itu kita tidak bertemu lagi. Padahal logikanya waktu sholat berapa lama dan berapa jauh sih?. Lalu dari kaldera turun ke lokasi penambangan sekaligus si api biru menampakkan diri. Tidak ketemu dengan wakhid. Turun lagi ke danau kawah. Lagi-lagi tidak ketemu. Kembali naik ke bibir kaldera. Masih belum ketemu. Naik lagi ke sisi kaldera satunya, sampai di halau turun oleh power ranger. Masih belum ketemu. Akhirnya jalan pelan-pelan turun ke pos Paltuding sambil berharap nanti ketemu di jalan.

Hampir sejam kemudian, dia nongol di lokasi parkir. Entah sy yang kurang sabar hingga di tertinggal di belakang, atau kah??

 #horormodeon

Sebenarnya tidak mau berpikir mistik, tapi berita hari berikutnya sih begini .

#horormodeoff

Atraksi utama kita sudah tercapai, selanjutnya kembali ke kota. Kereta Probowangi tak bisa lagi menunggu lama-lama. Meski baru sehari, teryata kota ini menyimpan banyak pesona. Ada laut dan gunung. Sabana dan rimba. Api biru dan pulau merah. Tempat surfing dan snorkeling.  Stasiun dan terminal. Bandar laut dan udara. Rawon dengan pecel atau Rujak dengan soto yang mesti di eksplorasi lagi di lain waktu. Ingat, Banyuwangi akan menagih janji.

Setelah ini, Chapter Surabaya.


NB :

Melihat Raung dari Ijen. Kapan kita kesana?